Blog ini adalah merupakan kumpulan kisah yang aku dapatkan. Kulakukan agar aku dapat menjadi manusia yang lebih baik..
Selasa, 11 Desember 2012
Berjalan di Atas Air
Sayyid Murtadha adalah seorang alim. Ia punya banyak murid yang rajin menimba ilmu darinya. Salah satunya adalah seorang muda yang selalu datang terlambat ke hauzah-nya. Suatu ketika, ia tanyakan hal itu kepada muridnya, Mengapa kau selalu datang terlambat?
Si Murid menjawab bahwa ia tinggal di seberang sungai. Ia sudah berusaha menyeberang dengan perahu pertama setiap harinya, tetapi perahu pertama ini baru akan menyeberang jika penumpangnya sudah penuh. Karenanya, dia pun selalu terlambat.
Sayyid Murtadha kemudian menulis sesuatu di secarik kertas, melipatnya rapat, lalu menyegelnya. Diberikannya kertas itu kepada muridnya yang selalu terlambat itu. Bawalah kertas ini setiap hari, seberangilah sungai, kau akan mampu berjalan di atas air mulai besok, kata Sayyid Murtadha, tetapi jangan pernah membuka segel kertas itu.
Esok harinya, Si Murid menghampiri tepi sungai, dan pelan-pelan mulai mencoba berjalan di atas air. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin seseorang bisa berjalan di atas air, namun ia percaya titah gurunya sepenuhnya. Ajaib, ternyata benar, dia bisa berjalan di atas air!
Sudah beberapa hari ini ia selalu menyeberangi sungai dengan berjalan di permukaannya, dan karenanya ia tak pernah lagi datang terlambat untuk menimba ilmu. Sampailah pada suatu hari ketika ia tak kuat lagi menanggung rasa ingin tahunya: apa, sih, isi kertas itu, yang membuatnya mampu berjalan di atas air?
Pagi itu dibukanya segel kertas pemberian gurunya. Di dalamnya ia dapati sebaris tulisan saja: Bismillâhir Rahmânir Rahîm (Dengan menyebut Nama Tuhan yang Maha-Pengasih lagi Maha-Penyayang). Sejenak, sempat terpikir di benaknya, Cuma bismillah inikah yang membuatku bisa berjalan di atas air?
Segera dilipatnya kembali kertas itu, dan beranjak menapak permukaan sungai untuk menyeberang seperti biasanya. Tapi, uups, kali ini ia gagal. Kakinya tercebur tenggelam ke dasar pinggiran sungai. Maka, ia putuskan untuk menunggu perahu seperti masa-masa sebelumnya. Jelas, hari ini ia akan datang terlambat lagi untuk belajar.
Saat pelajaran usai, Sayyid Murtadha memanggilnya sembari berujar, Sudah kubilang, jangan lihat isi dalamnya. Dengan bismillah, gunung pun bisa kaupindahkan asal kaupercaya dan mengimaninya. Sayangnya, kau sempat berpikir bahwa isinya cuma bismillah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar